Tampilkan postingan dengan label hidroponik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidroponik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, April 18, 2009

Panen Padi Hidroponik



Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, hidro padi-bulir kosong

Padi hidroponik sempat membuatku kecewa, dua malai yang muncul menghasilkan bulir-bulir yang kosong; tapi aku tetap membiarkannya tumbuh dan tidak membuangnya.







Bulir-bulir terus bermunculan dari malai yang keluar dari 'pelepah' padi. Jika terkena sinar matahari warna bulir ada yang transparan dan ada yang putih susu.

Kira-kira sebulan setelah munculnya malai banyak bulir yang mulai menguning, tetapi ada sebagian yang masih berwarna hijau atau kuning muda.

Saat aku periksa, ternyata..... tidak semua bulirnya kosong! Artinya ada bulir yang berhasil menjadi gabah! Bulir yang berwarna kuning adalah bulir yang berisi dan yang berwarna hijau atau kuning pucat adalah bulir yang kosong.

Waaahhhh....... asik.... padi hidroponikku berhasil! Seneng deh rasanya... percobaan yang ala kadarnya ini membuahkan hasil.
Berarti padi bisa dibudidayakan secara hidroponik walaupun hasilnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan budidaya di tanah. Masih diperlukan percobaan-percobaan lagi untuk mendapatkan larutan nutrisi yang tepat agar hasil panennya lebih banyak.

Buat para pakar hidroponik minta masukannya dong...

Read More......

Kamis, Maret 12, 2009

Padi Hidroponik Berbulir


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Bulir Padi Hidroponik


Semula aku berniat akan memangkas padi hidroponikku yang sepertinya sudah 'berhenti tumbuh' dan memasukkannya ke dalam tong kompos. Sebelum dipangkas aku amati tanaman padi itu baik-baik dan ternyata ada sesuatu yang membuat aku mengurungkan niat untuk membuangnya.





Tanaman padiku saat ini sudah berumur 4 bulan lebih, anakannya hanya satu yang muncul di bulan kedua. Sejak bulan kedua itu seakan-akan pertumbuhannya berhenti; tidak muncul anakan baru ataupun daun baru meskipun sudah dipindah ke pot yang lebih besar. Aku mulai putus asa dengan padi hidroponikku ini, aku pikir ini tidak akan berhasil dan aku sudah bertekad akan membuangnya saja.

Sebelum aku buang, entah kenapa aku pengen mengamati dulu tanaman padi itu; dan ternyata... aku melihat batang padinya sudah menggelembung seperti akan berbulir! Wow! surprise banget! Ternyata bisa berbulir juga padi hidroponikku! Batal deh niatku untuk mebuangnya...

Setiap hari aku tengok padi hidroponik ini; kalau-kalau bulirnya sudah muncul. Kemarin pagi aku lihat batang pembungkus malai padi sudah mulai terbuka dan beberapa bulir padi sudah muncul. Warna bulirnya hijau muda agak transparan, bentuknya gepeng dan di dalamnya ada semacam titik berwarna hitam. Aku merasa agak aneh dengan bulir padi ini. Rasa-rasanya kok beda dengan bulir padi yang di tanam di tanah... Bulir padi yang ditanam di tanah warnanya juga hijau muda tapi bagian dalamnya putih seperti susu dan bentuknya agak menggelembung.

Benar saja, pagi ini semuanya sudah terjawab. Bulir-bulir padi hidroponik itu terbelah jadi seperti kelopak bunga dan muncul serabut kecil seperti benang sari dari dalamnya. Artinya... padi hidroponikku memang berbulir tapi tidak menghasilkan gabah alias bulirnya kosong! Waaah... kecewa juga nih padahal sebelumnya aku sudah membayangkan akan panen padi hidroponik sebanyak 2 malai...

Kenapa bisa begitu... aku tidak tahu pasti. Ketika kutanyakan kepada Pak Sobirin, beliau mengatakan bahwa padinya kekurangan unsur hara phosphat (P2O5) yang berperan membentuk auxin, membentuk pati, mengurangi penyakit bulir hampa, dan BULIR PECAH. Unsur hara phosphat ini banyak terkandung dalam kotoran ayam.

Mungkin ini karena cairan nutrisi yang aku pakai adalah MOL buatan sendiri yang kurang lengkap komposisi unsur haranya. Jadi timbul pertanyaan nih... kalau pakai cairan nutrisi yang buatan pabrik yang katanya kandungan nutrisinya lengkap, apakah hasilnya seperti ini juga? Atau... mungkinkah membuat MOL dari bahan-bahan tertentu yang mengandung unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman...?

Jawabannya.... ya harus dicoba dulu baru bisa jawab... :)

Read More......

Minggu, Januari 18, 2009

Panen Kangkung Hidroponik



Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Seikat Kangkung Hidroponik

Asik..., tanaman hidroponikku sudah menghasilkan. Agak telat nih panennya jadi kangkungnya agak ketuaan sedikit.






Kangkung ini aku tanam sekitar awal Desember 2008. Seharusnya sudah dipanen awal Januari 2009 lalu tapi karena lupa jadi telat deh manennya.

Sebenernya cara penanamannya tidak murni hidroponik yang pake cairan nutrisi tok. Aku masih pake media tanam kompos baru kemudian direndam dalam cairan nutrisi. Mungkin bisa disebut semi hidroponik. Cairan nutrisinya pake MOL encer sekali 1:15-20.

Wadahnya masih pake gelas aqua dan gelas palstik lain yang ukurannya lebih besar. Ada satu yang pake pot anggrek dari tanah liat kemudian dicelupkan di baskom. Kali ini aku juga menambahkan 'sumbu' pada bagian bawah gelas. Sumbu ini berfungsi untuk meresapkan cairan nutrisi ke atas sehingga media tanam tidak terlalu basah. Tapi sumbu ini tidak bertahan lama, dalam dua minggu sumbu yang terbuat dari kain handuk bekas sudah hancur 'dimakan' MOL.

Biji kangkung disebarkan diatas media tanam dengan sedikit dibenamkan. Satu gelas aqua berisi 3 benih saja. Saat pembibitan cairannya pake air biasa, setelah seminggu baru diganti pake MOL encer. Biji kangkung tumbuh normal seperti kalau ditanam di tanah, hanya saja ukurannya lebih kecil. Coba bandingkan dengan kangkung yang ditanam di pralon dulu, daunnya lebih lebar-lebar ya...?!

Karena terlihat masih kecil maka aku pikir belum waktunya dipanen, padahal kalo dari segi umurnya sudah siap panen. Jadinya saat dipanen, kangkung ini sudah ketuaan. Tapi walaupun ketuaan, rasa kangkungnya tetap enak kok. Aku masak tumis kangkung, hasilnya ada di sini nih...

Read More......

Kamis, Desember 04, 2008

Padi Hidroponik umur 1 Bulan



Oleh: Christine

Foto: Christine, 2008, Padi Hidroponik umur 1 Bulan

Tidak terasa padi hidroponikku sudah berumur satu bulan. So far pertumbuhannya bagus, tapi masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan padi yang ditanam di tanah.





Bagiku tidak menjadi masalah jika pertumbuhan padi hidroponik tidak sepesat pertumbuhan padi yang ditanam di tanah karena aku hanya ingin tahu (lewat pengalaman pribadi) bisa tidak padi di-hidroponik-kan.

Dari 6 bulir padi yang kutanam hanya satu yang dapat tumbuh dengan baik dan normal, 5 lainnya ada yang kerdil, ada juga yang mati.

Awal bulan November lalu aku menanam 6 bulir padi secara hidroponik. 3 bulir ditanam dengan media sekam bakar saja dan 3 bulir ditanam dengan media campuran antara sekam bakar dan kompos buatan sendiri. Cairan yang digunakan saat persemaian adalah air biasa.

Pada minggu pertama tidak ada perbedaaan pertumbuhan antara padi yang ditanam di sekam bakar saja dengan padi yang ditanam di campuran sekam bakar + kompos buatan sendiri.

Minggu kedua cairan diganti dengan MOL encer (1:15) sebagai cairan nutrisinya. Pertumbuhan padi mulai terlihat berbeda. Yang media sekam bakar saja daunnya agak kekuningan atau hijau pucat sedangkan yang media campuran daunnya berwarna hijau segar.

Mulai minggu ketiga hanya satu tanaman dengan media campuran yang tumbuh normal sedangkan yang lainnya seperti berhenti tumbuh. Aku tidak tahu pasti apa penyebabnya. Perkiraanku, yang pake media sekam bakar saja kekurangan nutrisi untuk tumbuh dan 2 yang pake media campuran kurang sinar matahari. Tanaman yang tumbuh sehat saat ini tingginya mencapai 28 cm dan mempunyai 5 helai daun.

Aku masih terus mencoba padi hidroponik ini dengan berbagai wadah berbeda dan kompos berbeda (aku punya dua macam kompos aerob, satu berbahan sampah dapur dan satu lagi berbahan rumput lapangan).

Semoga saja nanti bisa ketemu media, wadah, MOL ataupun perlakuan yang pas supaya padi hidroponik dapat tumbuh baik seperti kalau ditanam di tanah.

Read More......

Minggu, November 09, 2008

Padi Hidroponik


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Sintanur Hidroponik
Umur 1 Minggu

Menanam sayur atau buah secara hidroponik sudah banyak dilakukan tapi menanam padi secara hidroponik? Aku belum pernah dengar dan tiba-tiba saja terlintas di pikiran untuk mencobanya.


Kenapa aku maksain mencoba padi hidroponik?

Aku pernah mencoba menanam padi di ember yang tidak dilubangi dan tetap bisa tumbuh berbulir. Berarti tidak masalah kalo akar padi terendam air.

Hidroponik sangat-sangat irit tempat sehingga tidak perlu pake ember-ember besar lagi.

Iseng aja, siapa tahu berhasil.......... he.he.he.....

Langkah pertama yang kulakukan adalah menyemai benih padi. Benih yang disemai adalah benih padi Sintanur, aku menyemai 6 biji. Persemaian dilakukan dalam kotak mika bekas kemasan stroberi. Medianya adalah arang sekam yang dibasahi air biasa hingga lembab. Pertumbuhannya sama seperti saat menanam di pot dulu, tunas muncul pada hari ke 3-4 (sebelumnya benih padi tidak direndam dulu).

Setelah itu tunas padi dipindahkan ke gelas aqua yang sisi-sisinya diberi lubang. Gelas aqua ini kemudian dimasukkan/digantungkan pada gelas yang lebih besar yang sudah diisi air biasa. Air biasa akan diganti cairan nutrisi saat tanaman sudah tumbuh kuat. Cairan nutrisi yang akan digunakan adalah MOL encer.

Aku menanam padi dengan dua macam media tanam: tiga bibit dengan arang sekam saja dan sisanya dengan arang sekam dicampur kompos. Kita lihat nanti apakah ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan padi.

Aku sangat berharap percobaan padi hidroponik ini akan berhasil - walaupun kelihatannya mustahil.... Tapi... kalo berhasil... mungkin kebutuhan beras rumah tangga bisa dipenuhi dari kebun sendiri..... berkhayal dulu ah, sebelum berkhayal itu dilarang..... ha.ha.ha.........

Read More......

Perkembangan Hidroponik


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Daun Dewa Hidroponik


Berkebun secara hidroponik merupakan pengalaman baruku. Karenanya semua perubahan yang terjadi pada tanaman merupakan kejutan-kejutan yang menarik bagiku walaupun tidak semuanya adalah kejutan yang menyenangkan.



Apa kabar hidroponikku yang sekarang ini berumur sekitar satu bulan? Banyak perubahan yang terjadi, ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan. Tapi semuanya sangat menarik untuk diamati dan dicari penyebabnya.

Sirih
Dari awal diletakkan di tempat yang kena sinar matahari langsung (sekitar jam 10 sampai jam 2 siang). Cukup tahan terhadap sinar matahari. Memang kalo siang daunnya sempat agak layu kepanasan tapi tetap dapat tumbuh segar dan sehat. Sekarang muncul dua tunas baru tapi belum jelas itu tunas daun atau tunas yang akan membentuk batang/salur.

Stroberi
Kurang tahan terhadap sinar matahari langsung jadi diletakkan di tempat yang terlidung. Pertumbuhan akarnya cepat, sudah lebih banyak akar yang menerobos keluar dari gelas aqua. Muncul tunas daun baru, hanya saja tumbuhnya kurang bagus: bagian pinggir daun kecoklatan seperti kering. Aku tidak tahu kenapa... mungkin karena kemaren sempat kepanasan... (???)

Daun Dewa
Diletakkan di tempat yang terlindung. Pertumbuhannya bagus, tanaman sudah dapat berdiri tegak tanpa diikatkan pada penopang dan daun-daun baru sudah muncul. Akar-akar baru juga sudah mulai terlihat dari sisi luar gelas aqua tapi belum menerobos keluar.

Sawi Caisim
Merupakan sisa panenan sawi dari pot bekas padi yang tumbuh kerdil karena kalah bersaing dengan teman-temannya (lihat artikel "Hidroponik Yang Lain"). Sampai sekarang tetap tidak dapat tumbuh dengan baik dan masih tetap kerdil. Kenapa ya? Mungkin karena memang bibitnya yang tidak bagus ... Tapi yang masih tersisa di pot bisa tumbuh besar tuh.... (???)

Cabe Rawit
Satu-satunya bibit yang dapat tumbuh dari persemaian hidroponik. Bibit cabe sudah dipindahkan ke pot tersendiri dan sepertinya pertumbuhannya normal. Semoga saja.

Read More......

Selasa, Oktober 28, 2008

Hidroponik Yang Lain


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Sirih Hidroponik


Selain mencoba melakukan pembibitan hidroponik, aku juga mencoba menanam tanaman yang sudah berakar secara hidroponik. Kali ini hasilnya cukup memuaskan, tanaman masih tampak segar dan muncul daun baru.




Tanaman pertama adalah sirih. Aku memperbanyak sirih dengan gelas aqua dan medianya sekam bakar. Rasanya media sekam bakar lebih cepat menumbuhkan akar baru dibandingkan jika menggunakan media tanah (ini menurutku lho...). Daun sirih tumbuh lebar, muncul daun baru dan tunas baru.



Tanaman kedua adalah stroberi. Anakan stroberi juga aku tanam dalam gelas aqua dengan media sekam bakar (beberapa kali aku menanam anakan stroberi pake tanah dicampur kompos jadinya busuk terus). Anakan stroberi ini bisa tumbuh baik, bahkan tumbuh daun baru yang ukurannya lebih besar dari daun lama. Akarnya juga bertambah panjang hingga keluar dari gelas aqua.








Tanaman ketiga adalah daun dewa
. Ini tanaman obat yang aku bawa dari Muntilan tanggal 19 Oktober 2008 lalu. Tanaman ini baru aku tanam esok harinya (karena lupa) dan dalam keadaan layu-yu-yu-yu... Sekarang, walaupun belum tegak benar, tapi kelihatan sudah lumayan segar dan tidak ada daun yang rontok.





Tanaman keempat adalah sawi caisim. Sebenernya ini adalah caisim yang aku tanam dalam ember bekas padi. Setelah dipanen ternyata ada beberapa tanaman yang tumbuh kerdil karena kalah bersaing dengan yang lainnya. Daripada dibuang aku coba tanam dalam botol plastik bekas benih sawi sendok. Karena baru beberapa hari sawi caisim belum kelihatan perkambangannya. Semoga saja bisa tumbuh subur seperti yang lainnya.





Surprise!
Ternyata benih cabe rawitku ada yang tumbuh satu biji. Numpang di potnya daun dewa. Asik.... moga-moga aja bisa tumbuh terus.....





Dengan terus bertumbuhnya tanaman, cairan nutrisi atau MOL encer akan berkurang setiap harinya; jadi harus selalu dipantau. Jika akar yang terendam tinggal sedikit maka perlu ditambah MOL encer yang baru, kira-kira makan waktu sekitar 5 hari sampai seminggu. Waaah.. kayaknya hidroponik bisa jadi alternatif bagi yang males nyiram tanaman nih... he.he.he...

Read More......

Pembibitan Hidroponik


Oleh: Christine

Foto: Christine, 2008, Pot Pembibitan Hidroponik


Sebagai uji coba hidroponik yang pertama, bibit yang disemai adalah sawi sendok, kangkung, dan cabe rawit. Media tanam yang digunakan adalah sekam bakar dicampur kompos dan cairan nutrisinya adalah MOL encer.


Untuk wadah pembibitan aku pakai lunch box dari styrofoam untuk menampung MOL encer dan botol plastik bekas susu fementasi (yakult) sebagai pot tanamnya. Caranya:
  • Potong botol plastik bagian atas dan lubangi sisi-sisinya.
  • Buat lubang pada styrofoam bagian atas (bagian tutupnya); besarnya lubang persis sama dengan diameter botol.
  • Isi botol dengan media tanam, siram air hingga lembab, benamkan benih ke dalamnya. Satu botol berisi 2-3 benih.
  • Isi styrofoam dengan MOL encer, masukkan botol-botol tadi ke dalam lubang-lubang yang sudah dibuat. Masukkan dengan hati-hati karena styrofoamnya mudah pecah. Posisi botol menggantung pada tutup styrofoam.
  • Letakkan pot benih di tempat yang terlindung.
Berdasarkan pengalaman menanam dengan media tanah, benih akan berkecambah dalam 4-10 hari; tergantung benihnya juga. Paling cepat kangkung, sekitar 4 hari; lalu sawi sekitar seminggu dan cabe sekitar 10 hari.

Benih-benih ini aku tebar tanggal 12 Oktober 2008. Benih sawi sendok ditempatkan dalam botol-botol yakult, benih kangkung dan cabe rawit masing -masing ditanam dalam gelas aqua.

Seminggu berlalu benih-benihku belum ada tanda-tanda akan berkecambah. Mungkin sebentar lagi - pikirku. Setelah dua minggu kecambah belum juga muncul... wah ada yang gak beres nih... Merasa penasaran, aku korek-korek media tanamnya dan ternyata... benihnya busuk! kangkung dan sawi sendok semuanya busuk. Cabe rawit masih utuh tapi ada beberapa yang hilang. Ada apa ini...???

Ternyata... aku salah. Harusnya saat pembibitan medianya tidak boleh basah kuyub, cukup lembab-lembab saja dan yang untuk membasahi adalah air biasa, bukan cairan nutrisi. Cairan nutrisi diberikan saat sudah menjadi tunas muda. Sama juga seperti yang dikatakan Pak Sobirin tentang MOL untuk pembibitan: benih dianggap bahan kompos dan dimakan oleh MOL. MOL diberikan saat tunas muda sudah tumbuh dengan kuat. Ternyata... ooh, ternyata.....

Jadi percobaan pertamaku melakukan pembibitan hidroponik gagal total.... hiks.... :(

Read More......

Hidroponik Sederhana



Oleh: Christine

Foto: Christine, 2008, Stroberi Hidroponik


Maksud hati ingin menanam macam-macam sayuran, apa daya lahan tak ada. Berbekal ilmu dari buku dan beberapa blog yang mengulas tentang hidroponik aku mencoba membuat hidroponik sederhana.



Kenapa hidroponik?
Karena, katanya, hidroponik tidak membutuhkan lahan yang banyak. Penambahan cairan nutrisi juga tidak perlu dilakukan setiap hari. Perlengkapan yang diperlukan dalam ber-hidroponik sangat sederhana dan dapat menggunakan barang-barang bekas.

Inti bertanam secara hidroponik adalah mengalirkan cairan nutrisi ke akar tanaman sehingga dapat tumbuh seperti jika ditanam di tanah. Dalam hidroponik, media tanam hanya berfungsi sebagai penopang tumbunhnya tanaman.

Peralatan yang dibutuhkan dalam ber-hidroponik sederhana adalah:

Gelas Aqua. Berfungsi sebagai wadah untuk menanam. Lubangi sisi-sisi gelas untuk jalannya cairan nutrisi dan tumbuh keluarnya akar tanaman.

Gelas plastik bekas teh/jus beserta tutupnya. Gelas plastik berfungsi sebagai penampung cairan nutrisi sedangkan tutupnya berfungsi sebagai penopang gelas aqua agar tidak tenggelam saat dimasukkan/dicelupkan ke dalam cairan nutrisi. Buat lubang pada gelas plastik; besarnya lubang kira-kira sedikit lebih kecil dari diameter gelas aqua.

Media tanam. Berfungsi sebagai penopang tumbuhnya tanaman. Media tanam harus poros dan dapat mempertahankan kelembaban. Yang biasa digunakan adalah arang sekam dan rockwool (jujur - aku belum pernah liat yang namanya rockwool hehehe....). Aku pakenya campuran arang sekam dan kompos matang butiran kasar buatan sendiri. Perbandingannya 1:1.

Cairan nutrisi. Adalah zat makanan bagi tanaman yaitu, air yang dicampur dengan pupuk khusus hidroponik. Karena ingin memanfaatkan yang ada, aku pakenya MOL encer: 1 bagian MOL pekat ditambah 15 bagian air (1:15).

Setelah semua peralatan siap, berkebun hidroponik sudah bisa dimulai.
Pertama. Isi gelas aqua dengan media tanam. Basahi hingga lembab.
Kedua. Isi gelas plastik dengan cairan nurisi, setengah dulu. Pasangkan tutup gelas plastik.
Ketiga. Masukkan gelas aqua dalam gelas plastik, posisinya akan menggantung pada tutup gelas.
Keempat. Benamkan/tanam tanaman yang akan di-hidroponik-kan pada media tanam. Periksa tinggi cairan nutrisi. Cairan nutrisi harus menyentuh akar tanaman. Jika belum menyentuh akar tanaman, cairan nutrisi dapat ditambahkan.
Kelima. Hidroponik selesai. Letakkan di tempat yang cukup mendapat sinar matahari tapi terlindung dari angin dan hujan.

Selamat ber-hidroponik-ria

Read More......