Tampilkan postingan dengan label mainan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mainan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 08, 2009

Hanya Sebuah Ide Tentang Hiasan Natal


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Christmas Ornament: cars

Bosan dengan hiasan Natal yang sama dari tahun ke tahun? Tidak perlu membeli yang baru, manfaatkan saja barang-barang yang ada di rumah.








Suamiku baru saja memasang pohon natal berikut lampu kelap-kelipnya. Belum ada hiasan lainnya -- sebenarnya aku juga belum kepikiran mau dikasih hiasan apa '(@_@).

Anakku yang sejak tadi menunggu merasa sangat senang saat pohon natal sudah berdiri. Dia mengamati lampu-lampu kecil yang kelap-kelip, kemudian dia berlari masuk dan keluar lagi membawa beberapa buah mobil mainannya. Mobil-mobli itu kemudian diletakkan di dahan pohon cemara imitasi itu.

Tiba-tiba saja "TING!" aku ada ide... menjadikan mobil-mobil mainan anakku sebagai hiasan natal tahun ini. Langsung saja kusuruh anakku mengumpulkan mainannya; aku bilang yang kecil dan ringan ya... supaya pohon natalnya tidak ambruk...

Aku pun kemudian mencari tali untuk menggantungnya dan akhirnya kutemukan pita berwarna merah maron. Pita itu kupotong-potong sepanjang 25 cm, kemudian diikatkan ke mobil mainan dan digantung di pohon natal... Wah senang rasanya melihat anakku semakin terlihat ceria menikmati pohon natal yang penuh dengan koleksi mainannya.

"MERRY CHRISTMAS!"

Read More......

Rabu, Juni 10, 2009

Lampion dari Buku Bekas



Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Lampion dari Buku Bekas

Lampion ini aku contek dari salah satu situs di internet; maksud hati pengen buat untuk menghias kelas anakku pada saat perpisahan kelas nanti karena nurid-murid diminta untuk membawa sesuatu untuk menghias kelas.






Bahannya dari buku bekas atau brosur yang berbentuk buku yang disatukan dengan staples di bagian tengah. Menurut sumbernya, buku/brosur yang akan dibuat lampion minimal mempunyai ketebalan 15 lembar atau sama dengan 30 halaman. Tapi setelah aku coba, jumlah lembarannya tergantung dari tebal tipisnya kertas. Kalo kertasnya tebal tidak sampai 15 lembar lampion sudah terbentuk; sebaliknya kalo kertasnya tipis butuh lebih dari 15 lembar kertas untuk membentuk sebuah lampion.



Langkah pertama, siapkan buku/brosur yang akan dibuat lampion. Potong memanjang menjadi 2 bagian atau lebih sesuai keinginan. Staples di bagian tengah tidak perlu dibuang.








Langkah kedua, tekuk setiap lembar kertas tapi tidak sampai membentuk garis lipatan, selipkan ke bagian tengah buku dan kuatkan dengan lem.







Langkah ketiga, lakukan hingga semua kertas habis ditekuk dan bentuknya seperti bunga. Selipkan tali dan lampion dari buku bekas siap digantung.






Lampion dari buku bekas ini akhirnya tidak jadi untuk menghias kelas anakku karena waktu akan dibawa ke sekolah lampionnya sudah penyok entah karena apa; mungkin kertasnya terlalu tipis. Hhh... sayang sekali... :(

Read More......

Jumat, Mei 22, 2009

Menyimpan Cetakan Bubur Kertas




Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Plastik deterjen untuk menyimpan mainan

Beberapa waktu yang lalu aku kehilangan sebagian pernak-pernik untuk membuat bubur kertas. Anakku telah memainkannya dan tidak mengembalikan pada tempatnya.




Cetakan-cetakan plastikku tersebar dimana-mana; ada yang di kolong meja, di kolong tempat tidur, di gudang, di tangga, juga dalam laci penyimpan mainan anakku. Beberapa kali aku kumpulkan dan aku taruh dalam satu keranjang plastik tanpa tutup, tapi setelah itu semuanya hilang lagi. Wah kalau sampai hilang semua sayang banget soalnya susah cari cetakan plastik seperti itu. Apalagi ada yang toko penjualnya sudah tutup untuk selamanya...

Aku harus mencari wadah yang tertutup dan tidak bisa terlihat dari luar sehingga anakku tidak tahu isinya. Aku mencoba menggunakan plastik bekas deterjent dan ternyata cocok; ukurannya pas, terlihat rapi, dan gampang menyimpannya.

Plastik deterjent yang digunakan tentu saja yang sudah bersih dan kering. Agar penampilannya juga bersih, aku membalik plastiknya sehingga yang warna silver/yang polos yang berada di luar. Membalik plastik ini harus hati-hati karena plastik bisa sobek atau jadi terlihat sangat kusut.

Setelah mainan dimasukkan ke dalam kantong, lipat bagian atas kantong dan jepit dengan penjepit baju. Untuk mengetahui isinya, beri label sesuai dengan isi kantong. Nah, sekarang mainanku sudah aman...

Read More......

Rumah Adat Honai dari Kertas Koran






Oleh: Christine

Foto: Christine, 2009, Rumah Adat Honai dari Kertas Koran

Pada perayaan Hari Kartini 2009, di sekolah anakku diadakan lomba membuat rumah adat Indonesia dengan bahan dasar dari kertas. Peserta lomba adalah murid Toddler/Play Group/TK bersama salah satu orang tua. Lomba dilaksanakan pada tanggal 15 April 2009 pk. 10.00 s/d 12.00 di aula sekolah.






Mengajak anak umur 4 tahun duduk manis dan menyelesaikan suatu pekerjaan bukanlah hal yang gampang; karenanya aku memilih rumah adat yang simpel dan cepat cara pembuatannya. Pilihanku jatuh pada Honai, rumah adat Papua - Irian Jaya.


Kerangka rumah aku buat dari kertas manila; bentuk tabung untuk badan rumah dan bentuk kerucut untuk atapnya. Kerangka rumah ini kemudian ditutup dengan kertas koran. Untuk menutup dinding rumah, kertas koran dilipat-lipat selebar 2.5 cm sehingga bentuknya menyerupai papan. Papan koran ini kemudian ditempelkan pada dinding rumah. Sedangkan penutup atap dibuat dari kertas koran yang dipotong kecil-kecil memanjang membentuk rumbai. Bagian atas rumbai ditutup dengan kertas koran yang dipilin sehingga menyerupai tali tambang.

Honai koran ini kemudian dicat dengan cat poster. Aku kecewa dengan warna catnya; cat yang semula aku kira berwarna merah bata ternyata setelah dipakai menghasilkan warna merah maron. Hiks udah terlanjur... hiks...


Acara ngecatnya sendiri sangat fun; anakku yang sebelumnya lari-lari keliling aula, pada saat ngecat bisa duduk manis. Apalagi setelah itu rumah honai ditempelkan pada alas berupa karton tebal yang diatasnya dihias dengan kacang merah sebagai batunya dan taburan beras yang dibuat warna-warni sebagai tanah dan rumputnya. Dan tangan kecilnya pun sibuk menyebarkan beras warna orange, kuning, dan hijau di atas karton.

Setelah semuanya selesai aku minta anakku untuk membuat gambar seperti pohon atau orang sebagai hiasan tambahan; dan yang dibuat adalah orang, mobil truk, dan mobil derek. Wah, mobilnya gak cocok nih kalo dipasang di rumah Honai... jadi orangnya saja yang aku pasang.

Taaaraaa... Rumah Honaiku sudah jadi.... Meskipun hasilnya tidak sesuai harapan dan tidak menang lomba, tapi aku senang bisa menjadi team work yang baik dengan jagoan kecilku...

Read More......

Jumat, Maret 06, 2009

Ular Tangga




Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Karpet Ular Tangga


Ular tangga adalah salah satu mainan favoritku waktu kecil selain monopoli dan masak-masakan. Selalu ada rasa deg-degan saat melempar dadu; kuatir kalau pionnya jatuh pada kepala ular.






Kalau dulu papan main ular tangga hanya terbuat dari selembar kertas, sekarang ada beberapa bentuk; diantaranya yang pernah aku lihat adalah berupa kotak papan plastik yang bisa dilipat seperti kotak papan catur. Bentuknya juga kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana. Bentuk kedua yang baru saja kutemui adalah berupa karpet; bahannya seperti bahan sandal jepit dan lapisan atasnya yang bergambar terbuat dari plastik.

Karpet ular tangga ini semula berupa potongan-potongan 30cm x 30cm, kemudian disambung-sambung hingga menjadi papan ular tangga berukuran 90cm x 90cm. Sayangnya karpet ular tangga ini hanya sekedar karpet saja, bukan paket permainan; artinya tidak ada dadu maupun pion untuk dimainkan










Yang bisa dilakukan dengan karpet ini adalah permainan puzzle. Anakku seneng banget bongkar pasang karpet ini... Berkali-kali dicoba akhirnya bisa juga dia merangkai gambarnya dengan benar.


Tapi... rasanya tidak asik kalo punya karpet ular tangga tapi tidak bisa bermain ular tangga. Tengok sana, tengok sini akhirnya nemu ide juga......

Dadu. Dari dua buah kotak kubus beda ukuran yang dibuat dari kertas yang dilipat ala origami terus di digambar pake spidol merah.




Pion. Dari batu baterai besar yang sudah tidak terpakai, biar cantik batu baterai ini aku bungkus dengan kain flanel warna cerah.

Siiip! Sekarang aku punya satu paket permainan ular tangga!
Main ular tangga yuuuk....


Read More......

Selasa, Februari 10, 2009

Mainan dari Sampah - 4 : Kura-kura Kardus


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Kura-kura Kardus

Mainan ini terinspirasi dari film anak-anak "Wonder Pets", dalam episode Wonder Pets Save The Flamingo. Saat telpon berdering, Tuck, si kura-kura muncul dari persembunyiannya; yaitu sebuah kotak yang dibuat menyerupai kura-kura.






Walaupun cuman kelihatan sebentar, tapi kotak kura-kura itu langsung 'nancap di otakku'. Dapet ide baru, harus buat nih....

Bahannya aku pakai kotak bekas sabun mandi. Caranya gampang banget! Jangan lupa ajak anak dalam proses pembuatannya agar anak lebih mencintai mainannya meskipun mainan itu hanya terbuat dari sampah.




Potong kotak sabun selebar 3 cm. Memotongnya jangan sampai putus, sisakan satu sisi yang tidak dipotong.








Tutup seluruh permukaan kotak sabun dengan selotip kertas. Tujuannya untuk menutup gambar merek sabun.







Tentukan karakter yang akan dibuat, gambar dan warnai kotak sabun sesuai dengan karakter yang dipilih; misalnya kura-kura. Mintalah anak untuk mewarnai; bisa menggunakan crayon, pensil warna, spidol, atau cat air.

Jangan lupa buat juga kaki dan ekornya.

Jadi deh kura-kuranya... Selamat bermain...!




gambar: http://www.glitter-graphics.com


Read More......

Selasa, Desember 16, 2008

White Christmas



Oleh: Christine

Foto: Christine, 2008, Hiasan Natal Kirigami

Hiasan pohon natalku yang lama, yang dari bubur kertas sudah habis dibagi-bagikan kepada saudara dan teman-teman anakku. Sekarang waktunya mau pasang pohon natal gak ada hiasannya...



Beberapa bulan lalu sempat bikin lagi hiasan natal dari bubur kertas tapi belum sempat dicat, barangnya sudah kabur alias ilang dimainkan anakku. Mau buat lagi sudah gak keburu.

Kebetulan aku punya buku KIRIGAMI karangan Revi Devi Paat, judulnya KIRIGAMI Kreasi Indah Seni menggunting Kertas. "Ting!" tiba-tiba saja muncul ide untuk bikin hiasan natal. Bahan bakunya bukan kertas tapi plastik-plastik kemasan yang berwarna silver. Contohnya plastik susu, ini aku punya banyak; kemasan biskuit, snack & cooking chocolate, yang ini diambil yang sebelah dalam.

Sebelumnya plastik-plastik ini dicuci bersih dulu dan dikeringkan. Setelah itu mulailah acara lipat-melipat dan gunting-menggunting sesuai pola atau bentuk yang diinginkan. Aku buat yang simpel-simpel aja habis guntingnya agak susah, plastik kan licin jadi lipat-guntingnya agak-agak meleset dikit. Tidak seperti kertas yang kalo dilipat-lipat nurut aja.

Setelah jadi diikat pake benang wol dan digantung di pohon natal. Hasilnya... hhmm... layak juga kok dijadikan pajangan...

Read More......

Sabtu, Oktober 04, 2008

Bunga Wafer



Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Bunga Wafer

Ada beberapa bungkus wafer nabati yang sudah kosong tergeletak di meja makan. Warnamya cantik, perpaduan antara kuning cerah dan merah. Sayang kalo dibuang...





Aku pungut bungkus kosong itu, dicuci bersih dan dikeringkan. Sambil nunggu kering, aku liatin sampah plastik ini sama mikir... kira-kira bisa dibuat apa ya...? Dijadiin tas... bahannya kurang, mesti ngumpulin dulu.

Aku terus inget prakarya jaman SD/SMP dulu: bunga dari pita jepang. Kayaknya bisa nih... kan bungkus wafer ini bentuknya juga kecil, panjang. Langsung saja aku ambil peralatan perang.. eh, gunting maksudnya... Bahan-bahan lainnya adalah sedotan bekas yang sudah dicuci bersih, benang sari (beli di toko kerajinan), botol yakult untuk vas, selotip kertas dan selotip bolak-balik.

Bungkus wafer ini kemudian digunting-gunting kira-kira lebar 3mm, tidak sampai terputus. Biarpun kelihatannya gampang, tapi pekerjaan ini butuh waktu yang cukup lama karena harus hati-hati agar besarnya potongan bisa sama dan plastik tidak teputus. Sampai-sampai jari-jari tangan kiri yang megang bungkus wafernya jadi pegel seperti mau kram...

Setelah semuanya selesai, mulai dirangkai menjadi bunga. Benang sari diikatkan pada sedotan dengan bantuan selotip kertas. Tempelkan selotip bolak-balik pada salah satu sisi plastik wafer. Gosok dengan gagang gunting agar selotip melekat kuat. Buka penutup selotip yang satunya, tempelkan plastik wafer pada sedotan dengan gerakan melingkar. Setelah selesai, kuatkan dengan selotip kertas. Bunga wafer sudah jadi. Rangkai beberapa tangkai bunga dalam botol yakult yang sudah bersih.

Kalau ingin lebih cantik tangkai bunga ditutup dengan selotip hijau khusus untuk bunga dan ditambahkan daun beludru (keduanya bisa dibeli di toko-toko kerajinan).

Semoga bermanfaat.

Read More......

Rabu, April 30, 2008

Mainan dari Sampah - 3: Boneka Tangan


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Boneka Tangan dari Kotak Sabun

Barang-barang bekas di rumah jangan buru-buru dibuang. Cari ide untuk “menyulapnya” menjadi sesuatu yang lebih berguna.







Kali ini aku membuat boneka tangan. Alat dan bahannya adalah: kotak bekas sabun mandi 2 buah, kertas warna atau kertas lipat, lem/double tape, gunting, dan spidol.

Cara membuatnya:


Satu. Ambil satu kotak sabun. Lipat ke dalam setiap “lidah” kotak sabun. Rekatkan dengan lem atau double tape (gb.1).


Dua. Kotak sabun yang kedua tidak usah dilipat.


Tiga. Menggabungkan kedua kotak sabun: masukkan “lidah panjang” kotak sabun kedua ke dalam kotak sabun pertama. Rekatkan dengan lem atau double tape. Lidah pendek dibiarkan untuk telinga (gb.2).


Empat. Kerangka boneka tangan sudah jadi. Sekarang tinggal membungkusnya dengan kertas warna atau kertas lipat. Warna disesuaikan dengan karakter binatang. Misal aku membuat boneka buaya, jadi warnanya hijau.


Lima. Beri mata, lubang hidung, gigi, dan hiasan lainnya sehingga boneka tangan ini jadi lebih menarik.

Membuatnya mudah kan….. Dijamin anak pasti senang memainkannya!

Banyak karakter yang dapat dimunculkan dengan kotak sabun ini. Selain buaya, aku juga membuat harimau dan singa tapi yang masih utuh cuma yang buaya, yang lainnya sudah sobek-sobek.

Selamat berkreasi ya, ciptakan karakter-karakter lain yang lebih menarik!

Read More......

Rabu, April 09, 2008

Mainan dari Sampah – 2: Mobil Kardus


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2007, Truk Kotak Susu
Tidak sulit menyulap sampah menjadi mainan, hanya butuh kreatifitas dan sedikit ketekunan. Anak juga bisa dilibatkan dalam proses pembuatannya sehingga akan timbul rasa “memiliki” pada diri anak.

Jika seorang balita ditanya, “Nak, Ulang Tahun nanti mau hadiah apa”; bisa ditebak jawabannya pasti “Mainan”. Tak heran, sekarang ini toko khusus mainan anak-anak ada dimana-mana. Jenis mainannya juga sudah tak terhitung banyaknya, harganya juga bervariasi dari yang murah banget sampai yang mahal banget.

Dalam memilih mainan untuk balita, kita juga harus hati-hati. Mesti diperhitungkan faktor keamanannya. Ada kan mainan yang harganya murah banget….eh, nggak tahunya mengandung zat-zat berbahaya. Mainan yang mahal, umumnya mencantumkan label non toxic dan batasan umur anak yang dapat memainkannya. Tapi sayangnya, anak balita belum bisa merawat mainan. Rasa ingin tahunya masih sangat besar sehingga mainan tersebut tidak berumur panjang. Kalau diumpamakan sebuah bengkel, “terima bongkar tidak terima pasang”.

Aku sendiri jarang membelikan mainan untuk anakku, dan untungnya anakku juga bukan type anak yang harus selalu dituruti keinginannya. Jadi, kadang di toko mainan dia cuma lihat-lihat saja, pegang sana, pegang sini tapi tidak minta dibelikan. Di rumah, anakku memang punya banyak mainan tapi “warisan” dari sepupu-sepupunya.

Selain bermain dengan mainan “second” anakku juga bisa bermain dengan apa saja; misalnya kursi, ember, gelas & botol plastik bekas air mineral, kotak-kotak bekas, daun, rumput, batu, botol bedak baby, dll. Karena sifatnya yang bisa bermain dengan apa saja inilah yang mendorong aku untuk membuat mainan dari barang-barang bekas yang ada disekitar. Barang-barang yang biasa kumanfaatkan adalah kotak bekas kemasan susu UHT dan Koran atau majalah bekas. Salah satu mainan buatanku adalah truk kotak susu.

Badan truk ini dibuat dari 6 buah kotak susu UHT 125ml, 1 buah kotak susu UHT 1 ltr, beberapa kertas Koran sebagai “pemberat” dan sebagai “cover”. Cara membuat pemberat, kertas Koran dilipat-lipat dan dimasukkan ke dalam kotak susu 125ml. Satu kotak susu berisi 2 lembar besar kertas Koran. Kotak-kotak susu ini kemudian dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi body truk (bentuk sesuai selera) dan kotak susu yang besar sebagai kontainernya.

Roda truk dibuat dari majalah bekas yang dilinting serong dengan bantuan pensil seperti melinting Koran pada pembuatan Keranjang Telur Paskah, 26 Februari 2008 tapi mulainya dari salah satu sudut kertas/posisi serong. Lintingan kertas kemudian digulung hingga menyerupai roda. Satu roda membutuhkan 2 lintingan kertas. Ide roda ini aku dapatkan di blog sampahnya Henny http://blogsampah.blogsome.com/ ttg pembuatan mangkok kertas. Sebagai as roda digunakan sedotan air mineral dan tusuk sate.

Tidak sulit menyulap sampah menjadi mainan, hanya butuh kreatifitas dan sedikit ketekunan. Anak juga bisa dilibatkan dalam proses pembuatannya sehingga akan timbul rasa “memiliki” pada diri anak. Waktu membuat truk ini anakku yang kebagian tugas mencuci semua kotak susu dan menjemurnya.

Banyak manfaat yang aku dapatkan dari mainan sampah ini. Yang pertama dari segi biaya jelas super hemat, kemudian anakku jadi “sayang” sama truknya karena “ikut membuat”. Kalau rusak bisa diperbaiki, kalau bosan bisa diganti modelnya. Misalnya, bosan dengan truk kontainer tinggal dicopot kontainernya sudah jadi truk tronton.

Roda truk kotak susu yang semula ada 8 sekarang tinggal 4, warna kertas korannya juga sudah kumal. Aku belum sempat mereparasi dan mengecatnya tapi anakku masih tetap enjoy memainkannya.

Read More......

Minggu, Maret 16, 2008

Mainan dari Sampah - 1: Balok-balok

Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Menyusun Balok

Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk memberikan mainan yang dapat merangsang daya pikir anak. Apapun akan dilakukan dan uang berapapun akan dikeluarkan, yang penting anak jadi pintar.

Eiiit....., kalau soal uang, tunggu dulu…emang uang metik dari pohon…. Bukannya pelit, tapi lihat dulu disekitar kita, barangkali ada barang-barang bekas yang bisa dimanfaatkan.



Bulan Desember 2007 aku dan keluargaku berlibur ke Yogyakarta. Kami mengunjungi Taman Pintar yang terletak di ujung Jalan Malioboro. Di Taman Pintar ini ada satu alat permainan yang paling disukai anakku, yaitu menyusun balok-balok dari kayu.

Balok-balok ini terbuat dari kayu yang ringan dan tanpa dipoles cat sehingga tidak mengandung bahan kimia. Kayu ini dipotong-potong menjadi berbagai macam bentuk geometris (kubus, balok persegi panjang, silinder, segitiga, lingkaran, setengah lingkaran, dll) dan dalam berbagai ukuran (besar, sedang , kecil). Selain itu ada juga bentuk-bentuk binatang, manusia dengan pakaian adat Indonesia, pohon, bunga , juga alat-alat transportasi seperti pesawat, kapal, mobil, kereta.

Banyak sekali kreativitas anak yang muncul dengan alat permainan ini. Anak dapat membangun gedung bertingkat, terowongan, jembatan, stasiun kereta api, bahkan kebun binatang dan istana raja seperti yang ada dalam dongeng 1001 malam. Pokoknya, anak akan betah bermain berjam-jam disini.

Rupanya alat permainan ini begitu berkesan bagi anakku. Di rumah dia menyusun apa saja untuk dijadikan mainan. Dia membuat pesawat terbang dengan menyilangkan dua buah guling. Menumpuk semua bantal yang ada di rumah untuk dijadikan sebuah menara. Kursi makan dibariskan sehingga menjadi sebuah gerbong kereta api. Dan masih banyak lagi.

Melihat kreativitasnya dapat berkembang bebas berkat permainan susun balok, aku jadi berniat untuk membelikan alat permainan tersebut. Aku cari di internet informasi tentang mainan itu dan ternyata harga satu set-lengkap bisa mencapai juataan rupiah. Waduh!!! Maaf saja, walaupun bagus, saya tidak akan mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk sebuah mainan. Jadi, cari yang lain saja.

Anakku adalah penggemar susu. Disamping susu formula, dia juga mengkonsumsi susu UHT kemasan kotak 125ml. Dalam satu hari dia bisa minun 2-5 kotak susu. Nah, dari sini muncul ide untuk memanfaatkan kotak susu yang selama ini selalu aku buang begitu saja. Sejak saat itu aku mulai mengumpulkan kotak-kotak susu bekas.

Setelah susu habis diminun, sedotannya dibuang lalu bagian bawah kotak digunting, dibuka, dan dicuci bersih; anakku yang kebagian tugas nyuci – sambil main air. Terus dijemur sampai kering. Kotak susu yang sudah kering ini digepengkan dan disimpan dulu sampai jumlahnya banyak.

Setelah jumlahnya cukup banyak, baru dibuat ‘balok-balok’. Caranya, bentuk kotak susu yang sudah gepeng menjadi seperti bentuk semula. Untuk pemberatnya, isi dengan kertas koran yang dilipat-lipat. Satu kotak susu membutuhkan 2 lembar besar kertas koran. Tutup lubangnya dengan selotip. Begitu seterusnya hingga semua kotak terisi. Mainan balok susun sudah siap digunakan tanpa mengeluarkan uang jutaan rupiah.
Anak sehat karena susunya dan menjadi cerdas karena kotak bekasnya.

Kalau pengen punya bentuk-bentuk geometri yang komplet, manfaatkan juga kemasan yang lain, seperti kemasan sabun, pasta gigi, roll tissue gulung, kemasan obat, kaleng susu, atau kemasan apa saja yang dirasa bisa mewakili bentuk-bentuk geometri.

Ternyata, sampah bukan saja menjadikan berkah, tapi juga menjadikan cerdas.

Read More......

Kamis, Februari 21, 2008

Hiasan dari Bubur Kertas

Oleh: Christine

Foto: Christine, 2007, Hiasan dari Bubur Kertas

Punya koran bekas? Jangan buru-buru dibuang atau diloakkan... bisa jadi hiasan cantik lho....

"Musibah" itu datang pas libur lebaran Oktober 2007 lalu. Gudangku diserang rayap, hancur semua!!! Termasuk hiasan pohon natalku yang lucu-lucu. Sediiiih banget..... apalagi Natal sudah di depan mata.

Menjelang Natal aku muter dari mal ke mal untuk mencari hiasan natal yang bagus dan murah. Hhhh....!! tidak ada yang cocok. Kalo barangnya bagus harganya mahal, kalo harganya murah barangnya jelek (ya pasti to...).
Trus aku berpikir untuk bikin sendiri, tapi... seperti apa ya.... yang unik dan murah meriah....

Pucuk dicinta ulam tiba.... waktu jalan-jalan di Gramedia, aku liat buku berjudul Kreasi Cantik dari Bubur Kertas karangan Elvira Novianti Nurwarjani. Covernya menarik, banyak lembar berwarnanya, ada foto step-by stepnya, bahasanya mudah dimengerti dan yang penting bahannya ada di sekitar kita.

Bahan utamanya adalah kertas bekas, air dan lem putih (lem kayu) sedangkan bahan pendukungnya adalah cat poster dan vernis. Alat yang diperlukan adalah blender, kain untuk menyaring dan cetakan kue kering.

Caranya, kertas disobek-sobek, direndam air 1-3 hari. Setelah itu diblender sampai halus, disaring dan diperas sampai agak kering.
Ampas kertas tadi kemudian dicampur dan diaduk rata dengan lem putih. Kemudiam dicetak pake cetakan kue kering, kasih gantungan tali emas kemudian dijemur sampai kering. Setelah kering dicat pake cat poster. Jadilah hiasan pohon natal yang unik, cantik dan murah.

Read More......