Tampilkan postingan dengan label TOGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOGA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, April 18, 2009

Panen Padi Hidroponik



Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, hidro padi-bulir kosong

Padi hidroponik sempat membuatku kecewa, dua malai yang muncul menghasilkan bulir-bulir yang kosong; tapi aku tetap membiarkannya tumbuh dan tidak membuangnya.







Bulir-bulir terus bermunculan dari malai yang keluar dari 'pelepah' padi. Jika terkena sinar matahari warna bulir ada yang transparan dan ada yang putih susu.

Kira-kira sebulan setelah munculnya malai banyak bulir yang mulai menguning, tetapi ada sebagian yang masih berwarna hijau atau kuning muda.

Saat aku periksa, ternyata..... tidak semua bulirnya kosong! Artinya ada bulir yang berhasil menjadi gabah! Bulir yang berwarna kuning adalah bulir yang berisi dan yang berwarna hijau atau kuning pucat adalah bulir yang kosong.

Waaahhhh....... asik.... padi hidroponikku berhasil! Seneng deh rasanya... percobaan yang ala kadarnya ini membuahkan hasil.
Berarti padi bisa dibudidayakan secara hidroponik walaupun hasilnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan budidaya di tanah. Masih diperlukan percobaan-percobaan lagi untuk mendapatkan larutan nutrisi yang tepat agar hasil panennya lebih banyak.

Buat para pakar hidroponik minta masukannya dong...

Read More......

Sabtu, Oktober 25, 2008

TOGA - Ciplukan



Oleh: Christine

Foto: Christine, 2008, Ciplukan (Physalis Minima L)

Tanaman ini aku temukan di tanah kosong dekat rumah. Tinggi pohon kira-kira selutut orang dewasa. Bentuk buahnya lucu, seperti bola lampion.Buah muda berwarna hijau sedangkan buah matang berwarna kuning.





Tanah kosong di dekat rumahku ditumbuhi bermacam-macam tanaman liar. Beberapa diantaranya diketahui sebagai tanaman obat, termasuk ciplukan. Ciplukan adalah tanaman semusim yang mulai tumbuh pada awal musim hujan seperti sekarang ini, dan pada pertengahan musim kemarau ciplukan akan kering dan mati. Semua bagian tanaman bisa digunakan sebagai obat, mulai dari buah, daun, batang dan akarnya.

Aku tahu tanaman ciplukan dari Bu Narti tetanggaku. Dia bercerita, dulu sewaktu kecil dia suka makan buah ciplukan yang tumbuh di dekat rumahnya di Kota Gombong. Setiap pulang sekolah dia dan teman-temannya berjongkok mengelilingi pohon ciplukan dan asik menyantap buahnya. Rupanya begitu senangnya Bu Narti pada buah ciplukan ini. Sampai sekarang acara jongkok di depan pohon ciplukan masih dilakukannya.

Suatu hari Bu Narti menyodoriku segenggam buah ciplukan matang, dia bilang: "Kamu harus coba, ini tanaman obat yang rasanya paling enak". Awalnya aku agak ragu-ragu. tapi akhirnya aku coba juga, aku ambil buah yang warnanya paling kuning (yang paling matang). Daging dan kulit buahnya renyah, ditambah bijinya yang kecil-kecil jadi semakin krez! krez! di mulut. Rasanya manis banget, ada sedikit rasa asam - segar. Buah yang belum matang rasanya asam seperti tomat hijau (tomat sayur) dan sedikit pahit-getir. Hhmmm... ternyata ciplukan memang enak, aku suka.

Awal musim kemarau banyak pohon ciplukan yang kering dan mati walaupun masih ada juga tanaman muda yang tumbuh. Aku mengambil tanaman muda dan mencoba menanamnya dalam pot. Sebagai media tanam kompos dicampur tanah, pupuknya pake MOL encer. Dalam pot ciplukan dapat tumbuh subur dan berbuah; bahkan ukuran buahnya lebih besar dari yang ada di lapangan. Tapi menurutku rasa buahnya lebih enak yang tumbuh liar, yang di pot rasanya kurang manis. Ciplukan dalam pot ini bertahan selama beberapa bulan, kemudian kering dan mati.

Bagi yang pengen tahu khasiat dari ciplukan bisa dibaca disini. Katanya, kandungan vitamin C-nya lebih tinggi dari anggur lho...

Read More......

Jumat, September 26, 2008

TOGA: Pegagan

Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Tanaman Pegagan


Bentuk daunnya bulat, mirip seperti kipas lipat jadul yang terbuat dari lipatan-lipatan kertas putih bergambar panda. Katanya tanaman ini berkhasiat obat, untuk lebih jelasnya dapat dibaca disini. Aku mendapatkan bibit tanaman ini dari kakakku. Tanaman ini memiliki nama keren centella asiatica.




Awalnya agak susah menanam pegagan ini di Semarang. Mungkin karena dibawa dari daerah yang agak sejuk jadi perlu banyak penyesuaian. Pertama kali menanam pegagan gagal total alias mati semua karena kepanasan dan kekeringan. Kemudian, bulan Juni yang lalu aku bawa lagi bibit pegagan sekantong kresek penuh (beli di pasar seharga lima ratus rupiah).

Daun-daun pegagan yang segar aku buat jus, cara membuat dan fotonya ada disini. Sisa batang dan akarnya aku tanam dalam pot dari baskom plastik yang sudah pecah, juga dalam beberapa pot kecil. Media tanam yang digunakan adalah kompos yang dicampur tanah hitam. Perbandingannya 2:1 atau 1:1. Pupuk yang digunakan adalah pupuk cair MOL tapai (MOL yang diencerkan 1:15). Pemupukan 2 kali dalam seminggu.

Pada awal-awal pertumbuhan, daun yang keluar kecil-kecil seperti kerdil. Ada juga yang tidak tumbuh dan mati. Aku lalu mulai memindahkan posisi pot untuk mencari tempat yang pas agar pegagan dapat tumbuh dengan baik. Dari sini aku jadi tahu tempat yang cocok bagi pegagan.

Pegagan harus kena sinar matahari. Yang paling baik adalah sinar matahari pagi hingga jam 10. Setelah itu usahakan terlindung. Dengan kondisi seperti ini daun pegagan akan tumbuh lebar dan berwarna hijau segar. Sedangkan yang diletakkan di tempat yang banyak terkena sinar matahari atau tidak terlindung, daun yang muncul lebih kecil dan berwarna hijau pucat agak kekuningan.

Dalam berkebun ternyata penting juga mengetahui "selera" tanaman terhadap sinar matahari. Salah penempatan akan membuat tanaman jadi ngambek dan males tumbuh.

Read More......