Rabu, April 30, 2008

Mainan dari Sampah - 3: Boneka Tangan


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Boneka Tangan dari Kotak Sabun

Barang-barang bekas di rumah jangan buru-buru dibuang. Cari ide untuk “menyulapnya” menjadi sesuatu yang lebih berguna.







Kali ini aku membuat boneka tangan. Alat dan bahannya adalah: kotak bekas sabun mandi 2 buah, kertas warna atau kertas lipat, lem/double tape, gunting, dan spidol.

Cara membuatnya:


Satu. Ambil satu kotak sabun. Lipat ke dalam setiap “lidah” kotak sabun. Rekatkan dengan lem atau double tape (gb.1).


Dua. Kotak sabun yang kedua tidak usah dilipat.


Tiga. Menggabungkan kedua kotak sabun: masukkan “lidah panjang” kotak sabun kedua ke dalam kotak sabun pertama. Rekatkan dengan lem atau double tape. Lidah pendek dibiarkan untuk telinga (gb.2).


Empat. Kerangka boneka tangan sudah jadi. Sekarang tinggal membungkusnya dengan kertas warna atau kertas lipat. Warna disesuaikan dengan karakter binatang. Misal aku membuat boneka buaya, jadi warnanya hijau.


Lima. Beri mata, lubang hidung, gigi, dan hiasan lainnya sehingga boneka tangan ini jadi lebih menarik.

Membuatnya mudah kan….. Dijamin anak pasti senang memainkannya!

Banyak karakter yang dapat dimunculkan dengan kotak sabun ini. Selain buaya, aku juga membuat harimau dan singa tapi yang masih utuh cuma yang buaya, yang lainnya sudah sobek-sobek.

Selamat berkreasi ya, ciptakan karakter-karakter lain yang lebih menarik!

Read More......

Jumat, April 25, 2008

Panen Raya Kangkung


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Anak-anak Petani


Aku dan beberapa tetanggaku sedang mencoba menggarap “lahan tidur” yang ada di sekitar lapangan RT. Sebagian lahan tersebut ditanami lidah buaya, sanseviera, kangkung, terong, kacang hijau, dan kenikir.



Lidah buaya, sanseviera, dan kangkung mulai ditanam sejak bulan Februari- awal Maret 2008 ketika masih banyak turun hujan. Lidah buaya dan sanseviera dibiarkan tumbuh sendiri, artinya tidak dilakukan penyiraman ataupun pemupukan. Semuannya murni tergantung alam. Sejauh ini pertumbuhannya cukup bagus, mulai muncul anakan kecil.

Waktu masih banyak turun hujan, kangkung juga "dipelihara oleh alam". Kami hanya mencabuti rumput-rumput liar disekitarnya saja. Setelah jarang turun hujan, perawatan tangan manusia mulai diperlukan. Menyiram tanaman setiap kali tanah terlihat kering dan memberi pupuk cair MOL beberapa hari sekali (tepatnya, kalo pas inget. Hehehe…)

Walaupun dengan perawatan ala kadarnya, kangkung dapat tumbuh dengan baik. Ditambah “alam yang baik hati” menurunkan hujan deras selama 2 hari. Pertumbuhan kangkung jadi tambah “melesat” hingga dapat dipanen.

Kemarin sore, kami beserta anak masing-masing turun ke ladang untuk memanen kangkung. Ibu dan anak yang sudah besar mencabut kangkung, anak yang lebih kecil membersihkan akar kangkung dari tanah yang menempel dan memasukkan ke dalam ember. Sebuah kerja sama yang manis……

Kangkung yang sudah dipanen kemudian dicuci dan diikat rapi. Berat per ikatan 250 gram. Hasil panen kemudian dijual ke warga sekitar. Rasanya puaaas banget, iseng-iseng yang menghasilkan.

Kami menyebutnya “Panen Raya Kangkung” karena dari sepetak kecil lahan tidur dapat dihasilkan hampir 60 ikat kangkung @250 gram!

Read More......

Memanfaatkan Lahan Tidur


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Drip Irrigation

Menjadi petani itu tidak gampang. Hal ini sudah kualami sendiri dari pengalamanku menanam padi di pot dan menggarap sepetak tanah.


Aku dan beberapa tetanggaku sedang mencoba menggarap “lahan tidur” yang ada di sekitar lapangan RT. Sebetulnya, pemanfaatan lahan tidur ini merupakan program Rumah Pintar untuk kegiatan ibu-ibu; tapi ternyata tidak mendapat respon yang baik. Mereka menganggap kegiatan ini tidak ada gunanya, dan hanya buang-buang waktu saja.

Kemudian Bu RT mengajak ibu-ibu yang mau saja untuk menanam di lahan tidur ini. Ada 4 orang ibu yang bersedia, termasuk aku. Kami hanya merasa sayang saja, sudah mengeluarkan uang untuk jasa mencangkul membuat bedengan-bedengan kok sekarang tidak diolah (dulunya tanah ini ditumbuhi rumput liar) .

Sebagian besar lahan ditanami lidah buaya dan sanseviera. Masih ada sisa dua petak kecil lahan kami tanami kangkung, terong, kacang hijau, dan kenikir. Lidah buaya, sanseviera, dan kangkung mulai ditanam sejak bulan Februari- awal Maret 2008 ketika masih banyak turun hujan. Terong dan yang lainnya ditanam akhir Maret 2008 saat hujan sudah jarang turun.

Ternyata menanam di ladang itu sulit, apalagi jenis tanahnya tanah liat. Kalo habis hujan tanah jadi licin dan lengket banget tapi kalo kering jadi keras banget dan retak-retak. Agar mudah ditanami dan dicangkul, tanah mesti lebab-lembah saja. Masalahnya adalah di sekitar lahan tidak ada sungai atau kolam sehingga kami kesulitan dalam menyiram. Terpaksa kami membawa air dari rumah dengan menggunakan ember. Walaupun jarak ladang dengan lokasi rumah tidak jauh, sekitar 100 meter, tapi kalau mesti dilakukan setiap hari ya capek juga.

Akhirnya penyiraman dilakukan seperlunya saja. Kalau tanahnya sudah kelihatan kering sekali baru disiram. Lalu aku cari-cari informasi di internet tentang cara menyiram tanaman yang efektif dan tidak “merepotkan”. Aku menemukan sebuah “alat penyiram” sederhana berbahan botol plastik bekas. Tutup botol dilubangi – kecil saja, botol diisi air hingga penuh, lalu botol "ditanam" di dekat pohon dengan posisi terbalik. Air yang ada dalam botol akan menetes membasahi daerah di sekitar tanaman. Belakangan aku tahu dari Pak Sobirin, cara penyiraman seperti ini namanya “drip irrigation” yang digunakan di NTT dan Negara-negara yang sulit air. Kata Pak Sob juga, jika diterapkan dalam pertanian yang sesungguhnya, ongkos produksi akan lebih besar dari hasil panen.

Aku tetap menggunakan cara ini dalam “pertanian mini” kami. Tentu saja aku tidak mau keluar uang untuk membeli “alat penyiramnya”. Aku manfaatkan saja kotak-kotak susu UHT ukuran 1 liter yang selalu tersedia di rumahku. Bagian dasar kotak dilubangi pake paku kecil, cukup satu lubang saja. Airnya akan habis dalam setengah hari. Pengisisan air tergantung cuaca, kalo panas ya setiap hari, tapi kalau mendung bisa diganti 2-3 hari sekali.

Cara ini kelihatannya cukup efektif, hingga hari ini tanaman dapat tumbuh dengan baik dan tidak kekeringan. Selain itu, membawa air dalam kotak susu jauh lebih mudah daripada dalam ember. Selain diisi air ledeng, kotak susu kadang juga diisi dengan MOL encer sebagai pupuknya.


Harapan kami, semoga saja dengan cara dan kemampuan yang seadanya “lahan tidur” dapat berubah menjadi lahan produktif.

Read More......

Selasa, April 22, 2008

Padi Sintanur Umur 14 Hari


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Padi Dalam Kurungan


Tanaman padiku sudah berumur 14 hari. Pertumbuhan padi unggul varietas Sintanur ini sangat cepat. Jumlah helai daunnya sudah bertambah banyak dan panjang.


Minggu, 6 April 2008 aku merendam 10 butir benih padi dalam air tawar biasa.
Senin, 7 April 2008, sebagian benih padi disemai secara langsung dalam ember ukuran 45cm X 30cm dan polybag ukuran 50cm X 50cm. Sebagian disemai dalam pot kertas buatan sendiri. Satu benih aku berikan kepada tetangga sebelahku, Ibu Wenny.
Selasa, 8 April 2008, 2 benih padi hilang dipatok ayam. Padi kemudian diberi pelindung gelas plastik transparan yang dibolong-bolong.
Rabu, 9 April 2008, pot semai kertas diserang jamur, benih dipindahkan ke pot besar.
Senin, 14 April 2008, tunas padi mulai berdaun 2 helai dan tumbuh dengan cepat. Dalam satu hari pertumbuhannya sudah terlihat jelas.

Pertumbuhan padi Sintanur ini sangat cepat. Jumlah helai daunnya sudah bertambah banyak dan panjang. Tinggi pohon sudah lebih dari 20cm, bahkan daun yang terpanjang mencapai hampir 30cm. Pengaman berupa gelas plastik sudah tidak dapat melindunginya lagi.

Rumahku tidak mempunyai halaman sehingga pot-pot padiku kutaruh diluar pagar rumah. Karena berada di pinggir jalan, maka ada banyak faktor yang dapat mengganggu pertumbuhan padiku. Diantaranya, tikus got, burung, ayam, bola voli nyasar (di depan rumahku ada lapangan voli yang sudah mulai digunakan lagi) dan anak-anak kecil yang rasa ingin tahunya besar.

Aku mulai memikirkan pengaman yang dapat melindungi tanaman padiku sekarang dan sampai berbulir nanti. Pilihanku jatuh pada ram kawat yang biasa digunakan untuk mengayak pasir. Cara membuatnya, ram kawat cukup digulung saja sesuai dengan diameter pot bagian dalam, ujungnya “dijahit” dengan kawat kecil, bagian atas dilipat ke dalam sehingga tidak ada bagian tajam yang keluar. Bagian bawah tidak perlu dilipat. Bagian bawah ini kemudian diletakkan dengan sedikit dibenamkan ke dalam tanah. Selesai sudah Kurungan padiku.

Kata Pak Sobirin, jika sudah berbulir tinggi padi bisa mencapai 70cm jadi ram-ramannya harus lebih tinggi. Aku membuatnya 75cm. Bagian atas masih dibiarkan terbuka. Mungkin kalau sudah berbulir bagian atas perlu ditutup agar burung tidak dapat masuk.

Menanam padi di pot itu asik! Ayo, siapa lagi yang mau menyusul……

Read More......

Jumat, April 18, 2008

Tikus Lagi, Tikus Lagi….

Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Keranjang Bambu Berlubang


Tikus-tikus nakal tidak saja menghabiskan tunas-tunas padiku (lihat artikel tanggal 6 April 2008), tapi juga merusak komposter keranjang bambuku.


Selama berkompos aku sudah mencoba menggunakan beberapa komposter, yaitu keranjang sampah bekas, keranjang pakaian+dos bekas air mineral, dan keranjang bambu. Dari ketiga komposter ini aku merasa cocok dan “pas” menggunakan keranjang bambu.

Di rumah aku mempunyai 4 komposter keranjang bambu. Banyak ya? Iya, soalnya aku setiap hari mendapat “sumbangan sampah” dari tetangga yang tidak mau mengolah sampah sendiri. Dua keranjang berisi sampah daun-daun kering dengan starter MOL. Dua keranjang dengan starter kompos matang, isinya sisa sayur non protein, nasi, roti basi, amapas kelapa, dll.

Untuk memudahkan “para donatur” memasukkan sendiri bahan kamposnya, keranjang-keranjang itu aku taruh di depan rumah, di bawah pohon mangga. Di tempat ini keranjang cukup terlindung dari sinar matahari, hanya saja atasnya perlu diberi plastik untuk melindungi jika sewaktu-waktu turun hujan. Keranjang-keranjang ini aku tutup dengan “tampah” bambu yang ukurannya disesuaikan dengan besarnya keranjang.

Selama ini aku nyaman banget sama komposter keranjang bambuku. Harganya murah, keranjang+tampah tidak sampai Rp. 20.000,-. Muatnya cukup banyak, ngaduknya juga gampang dan lebih merata karena keranjang bisa diputar-putar sehingga bisa ngaduk dari berbagai sisi. Kelemahannya, katanya keranjang lama-kelamaan akan dimakan bakteri kompos juga. Tapi, punyaku untuk 2 kali panen masih bagus.

Kelemahan lainnya baru saja kutemukan, yaitu dimakan tikus! Beberapa hari yang lalu aku mendapati keranjang yang berisi sisa makanan sudah berlubang dan sebagian isinya berhampuran keluar! Rupanya aroma roti basi menarik perhatian tikus untuk medekat. Waduh…. Gimana nih….., komposnya belum jadi je……

Kebetulan ada satu keranjang yang kosong karena habis dipanen dan belum terisi lagi, jadi aku pindahkan saja kompos yang berhamburan ke keranjang itu.

Sekarang aku lagi cari cara nih bagaimana nambal keranjang yang bolong dan melindungi keranjang-keranjang yang lain dari tikus. Masalahnya kan keranjang ada di luar, mestinya yang berulah adalah tikus-tikus got.

Mungkin keranjangnya mesti dilapisi kawat kasa yang sering dipakai untuk nyaring pasir ya…..
Buat para pembaca, ada usulan tidak untuk melindungi keranjang dari tikus?

Read More......

Senin, April 14, 2008

Pertumbuhan Padi Sintanur Umur 7 Hari


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Pertumbuhan Sintanur Umur 7 Hari

Pertumbuhan padi unggul varietas Sintanur sangat cepat. Bahkan dalam satu hari pertumbuhannya sudah terlihat jelas.


Minggu, 6 April 2008 aku merendam 10 butir benih padi unggul varietas Sintanur dalam air tawar biasa.

Senin, 7 April 2008, benih-benih padi disemai. Persemaian dilakukan secara langsung dalam ember ukuran 45cm X 30cm dan dalam polybag ukuran 50cm X 50cm. Persemaian juga dilakukan dalam pot kertas buatan sendiri. Satu benih aku berikan kepada Ibu Wenny dan disemai dalam pot ukuran 30cm X 30cm

Selasa, 8 April 2008, baru sehari ditanam, padiku hilang 2 karena dipatok ayam tetangga. Padi kemudian dibuatkan pelindung berupa gelas plastik transparan yang dibolong-bolong.

Rabu, 9 April 2008, pot kertas tempat persemaian benih diserang jamur sehinga benih harus segera dipindahkan ke pot besar agar tidak tertular.

Setiap hari padi aku siram. Kalau hari panas disiram pagi dan sore. Kalau hari hujan cukup satu kali saja. Pemberian MOL setiap hari Senin dan Kamis. Kalau ada rumput liar langsung dicabut. Di beberapa literatur yang pernah kubaca, pencabutan rumput liar, selain untuk mengurangi persaingan makanan juga dapat menambah oksigen dalam tanah. Ketika rumput dicabut, tanah akan berlubang dan dari lubang inilah kemudian oksigen akan masuk ke dalam tanah.

Pemakaian gelas plastik sebagai pelindung cukup efektif. Tanaman padi terhindar dari serangan tikus dan ayam tetangga. Tanaman padi juga tidak rusak karena guyuran air hujan, bahkan hujan yang sangat deras sekalipun. Paling-paling tusuk satenya jadi sedikit terbenam sehingga bibir gelas menyentuh tanah. Ini tidak masalah karena letaknya dapat dibetulkan lagi.

Hari ini, umur padi sintanurku genap satu minggu. Pertumbuhannya semakin melesat, bahkan dalam satu hari perbedaannya sangat jelas terlihat. Tunas padiku mulai berdaun 2 helai dan tumbuh semakin panjang.

Tanaman padiku mulai menarik perhatian setiap orang yang melewatinya. Komentarnya bermacam-macam, ada yang heran, memuji, penasaran… ada juga yang mencemooh dan menganggapku sebagai orang yang kurang kerjaan!

Tidak apa-apa, orang bebas berpendapat. Yang penting aku tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain dan aku enjoy dengan apa yang aku lakukan.

Read More......

Jumat, April 11, 2008

Sintanur Mulai Bertunas


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2008, Sintanur Umur 3 Hari Berakar Panjang

Kegagalan Jadi Petani Ember I tidak membuatku berhenti mencoba. Segenggam benih padi dari Pak Sobirin itu jika dihitung mungkin jumlahnya ribuan. Berarti masih ada ribuan kesempatan untuk mencoba lagi.

Minggu, 6 April 2008 aku merendam 10 butir benih padi unggul varietas Sintanur dalam air tawar biasa. Sebelumya benih dites dulu dengan air garam. Semuanya tenggelam, berarti benihnya bagus.

Senin, 7 April 2008, benih-benih padi itu mulai aku semai. Sebagian disemai langsung dalam ember ukuran 45cm X 30cm dan dalam polybag ukuran 50cm X 50cm. Satu benih aku berikan kepada tetangga sebelahku, Ibu Wenny, yang juga pengen coba jadi petani ember. Sisa benih aku semai di pot kertas buatan sendiri.

Selasa, 8 April 2008, baru sehari ditanam, padiku sudah hilang 2 karena dipatok ayam tetangga. Satu dari potku dan satu dari pot Ibu Wenny. Aku lalu mebuatkan pelindung berupa gelas plastik transparan yang dibolong-bolong. Gelas tersebut ditutupkan diatas benih padi. Untuk menambah sirkulasi udara, aku menancapkan 4 batang tusuk sate di sisi dalam gelas sehingga jika gelas ditutupkan posisinya akan menggantung dan bibir gelas tidak menempel pada tanah. Ada rongga kecil untuk aliran udara.

Masalah kembali muncul di hari ke-3. Kali ini bukan serangan “hama” tapi jamur. Jamur ini muncul pada sisi luar pot semai kertas kemudian menulari media tanam. Penyebab timbulnya jamur mungkin karena hujan selama beberapa hari dan udara yang lembab. Cepat-cepat tunas padi aku pindahkan ke pot besar. Pot semai kertas aku robek, kemudian tunas padi aku ambil dengan hati-hati. Pot semai yang berjamur itu aku buang.

Saat membuka pot kertas aku melihat bahwa akar padi sudah tumbuh panjang, bahkan hampir mencapai dasar pot padahal tunasnya masih kecil banget. Jadi benar jika dikatakan bahwa perakaran padi sangat hebat sehingga jika ingin menanamnya dalam pot dibutuhkan pot yang besar; minimal ukuran 30cm X 30cm.

Semoga perakaran yang hebat akan diikuti dengan panenan yang hebat pula.

Read More......