Rabu, Juni 10, 2009

Lampion dari Buku Bekas



Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Lampion dari Buku Bekas

Lampion ini aku contek dari salah satu situs di internet; maksud hati pengen buat untuk menghias kelas anakku pada saat perpisahan kelas nanti karena nurid-murid diminta untuk membawa sesuatu untuk menghias kelas.






Bahannya dari buku bekas atau brosur yang berbentuk buku yang disatukan dengan staples di bagian tengah. Menurut sumbernya, buku/brosur yang akan dibuat lampion minimal mempunyai ketebalan 15 lembar atau sama dengan 30 halaman. Tapi setelah aku coba, jumlah lembarannya tergantung dari tebal tipisnya kertas. Kalo kertasnya tebal tidak sampai 15 lembar lampion sudah terbentuk; sebaliknya kalo kertasnya tipis butuh lebih dari 15 lembar kertas untuk membentuk sebuah lampion.



Langkah pertama, siapkan buku/brosur yang akan dibuat lampion. Potong memanjang menjadi 2 bagian atau lebih sesuai keinginan. Staples di bagian tengah tidak perlu dibuang.








Langkah kedua, tekuk setiap lembar kertas tapi tidak sampai membentuk garis lipatan, selipkan ke bagian tengah buku dan kuatkan dengan lem.







Langkah ketiga, lakukan hingga semua kertas habis ditekuk dan bentuknya seperti bunga. Selipkan tali dan lampion dari buku bekas siap digantung.






Lampion dari buku bekas ini akhirnya tidak jadi untuk menghias kelas anakku karena waktu akan dibawa ke sekolah lampionnya sudah penyok entah karena apa; mungkin kertasnya terlalu tipis. Hhh... sayang sekali... :(

Read More......

Jumat, Mei 22, 2009

Menyimpan Cetakan Bubur Kertas




Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Plastik deterjen untuk menyimpan mainan

Beberapa waktu yang lalu aku kehilangan sebagian pernak-pernik untuk membuat bubur kertas. Anakku telah memainkannya dan tidak mengembalikan pada tempatnya.




Cetakan-cetakan plastikku tersebar dimana-mana; ada yang di kolong meja, di kolong tempat tidur, di gudang, di tangga, juga dalam laci penyimpan mainan anakku. Beberapa kali aku kumpulkan dan aku taruh dalam satu keranjang plastik tanpa tutup, tapi setelah itu semuanya hilang lagi. Wah kalau sampai hilang semua sayang banget soalnya susah cari cetakan plastik seperti itu. Apalagi ada yang toko penjualnya sudah tutup untuk selamanya...

Aku harus mencari wadah yang tertutup dan tidak bisa terlihat dari luar sehingga anakku tidak tahu isinya. Aku mencoba menggunakan plastik bekas deterjent dan ternyata cocok; ukurannya pas, terlihat rapi, dan gampang menyimpannya.

Plastik deterjent yang digunakan tentu saja yang sudah bersih dan kering. Agar penampilannya juga bersih, aku membalik plastiknya sehingga yang warna silver/yang polos yang berada di luar. Membalik plastik ini harus hati-hati karena plastik bisa sobek atau jadi terlihat sangat kusut.

Setelah mainan dimasukkan ke dalam kantong, lipat bagian atas kantong dan jepit dengan penjepit baju. Untuk mengetahui isinya, beri label sesuai dengan isi kantong. Nah, sekarang mainanku sudah aman...

Read More......

Rumah Adat Honai dari Kertas Koran






Oleh: Christine

Foto: Christine, 2009, Rumah Adat Honai dari Kertas Koran

Pada perayaan Hari Kartini 2009, di sekolah anakku diadakan lomba membuat rumah adat Indonesia dengan bahan dasar dari kertas. Peserta lomba adalah murid Toddler/Play Group/TK bersama salah satu orang tua. Lomba dilaksanakan pada tanggal 15 April 2009 pk. 10.00 s/d 12.00 di aula sekolah.






Mengajak anak umur 4 tahun duduk manis dan menyelesaikan suatu pekerjaan bukanlah hal yang gampang; karenanya aku memilih rumah adat yang simpel dan cepat cara pembuatannya. Pilihanku jatuh pada Honai, rumah adat Papua - Irian Jaya.


Kerangka rumah aku buat dari kertas manila; bentuk tabung untuk badan rumah dan bentuk kerucut untuk atapnya. Kerangka rumah ini kemudian ditutup dengan kertas koran. Untuk menutup dinding rumah, kertas koran dilipat-lipat selebar 2.5 cm sehingga bentuknya menyerupai papan. Papan koran ini kemudian ditempelkan pada dinding rumah. Sedangkan penutup atap dibuat dari kertas koran yang dipotong kecil-kecil memanjang membentuk rumbai. Bagian atas rumbai ditutup dengan kertas koran yang dipilin sehingga menyerupai tali tambang.

Honai koran ini kemudian dicat dengan cat poster. Aku kecewa dengan warna catnya; cat yang semula aku kira berwarna merah bata ternyata setelah dipakai menghasilkan warna merah maron. Hiks udah terlanjur... hiks...


Acara ngecatnya sendiri sangat fun; anakku yang sebelumnya lari-lari keliling aula, pada saat ngecat bisa duduk manis. Apalagi setelah itu rumah honai ditempelkan pada alas berupa karton tebal yang diatasnya dihias dengan kacang merah sebagai batunya dan taburan beras yang dibuat warna-warni sebagai tanah dan rumputnya. Dan tangan kecilnya pun sibuk menyebarkan beras warna orange, kuning, dan hijau di atas karton.

Setelah semuanya selesai aku minta anakku untuk membuat gambar seperti pohon atau orang sebagai hiasan tambahan; dan yang dibuat adalah orang, mobil truk, dan mobil derek. Wah, mobilnya gak cocok nih kalo dipasang di rumah Honai... jadi orangnya saja yang aku pasang.

Taaaraaa... Rumah Honaiku sudah jadi.... Meskipun hasilnya tidak sesuai harapan dan tidak menang lomba, tapi aku senang bisa menjadi team work yang baik dengan jagoan kecilku...

Read More......

Sabtu, April 18, 2009

Panen Padi Hidroponik



Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, hidro padi-bulir kosong

Padi hidroponik sempat membuatku kecewa, dua malai yang muncul menghasilkan bulir-bulir yang kosong; tapi aku tetap membiarkannya tumbuh dan tidak membuangnya.







Bulir-bulir terus bermunculan dari malai yang keluar dari 'pelepah' padi. Jika terkena sinar matahari warna bulir ada yang transparan dan ada yang putih susu.

Kira-kira sebulan setelah munculnya malai banyak bulir yang mulai menguning, tetapi ada sebagian yang masih berwarna hijau atau kuning muda.

Saat aku periksa, ternyata..... tidak semua bulirnya kosong! Artinya ada bulir yang berhasil menjadi gabah! Bulir yang berwarna kuning adalah bulir yang berisi dan yang berwarna hijau atau kuning pucat adalah bulir yang kosong.

Waaahhhh....... asik.... padi hidroponikku berhasil! Seneng deh rasanya... percobaan yang ala kadarnya ini membuahkan hasil.
Berarti padi bisa dibudidayakan secara hidroponik walaupun hasilnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan budidaya di tanah. Masih diperlukan percobaan-percobaan lagi untuk mendapatkan larutan nutrisi yang tepat agar hasil panennya lebih banyak.

Buat para pakar hidroponik minta masukannya dong...

Read More......

Sabtu, Maret 28, 2009

Panen Sawi Caisim





Oleh: Christine

Foto: Christine, 2009, Sawi Caisim Segar

Pas weekend pas panen sawi caisim... asik sawinya segar sekali, daunnya juga lebar-lebar.











Aku menebar benih sawi di pot ember yang sebelumnya ditanami bayam. Sebelum benih ditebar, media tanam diaduk-aduk dan ditambahkan kompos baru. Setelah itu didiamkan barang seminggu agar tanah sempat beristirahat. Selama diistirahatkan tanah tetap disiram dan dipupuk dengan MOL encer seperti biasa.

Pada tanah yang sudah siap ditanami kemudian disebarkan benih sawi; kira-kira sejumput banyaknya. Benih-benih sawi yang sudah disebar ditutup dengan selapis tipis kompos agar tidak hanyut saat disiram.

Dalam beberapa hari sudah muncul tunas-tunas sawi. Daun pertama yang muncul bentuknya bulat terbelah di tengah seperti bentuk hati, beberapa hari kemudian muncul daun berbentuk lonjong dan agak bergerigi; inilah daun sawi sesungguhnya.

Pertumbuhan sawiku sempat terganggu karena curah hujan yang tinggi. Tanaman muda banyak yang ambruk, rusak, bahkan busuk. Setelah hujan berkurang muncul masalah baru; serbuan dari belalang hijau kecil membuat tanaman sawiku tinggal batangnya saja.

Akhirnya dari sekian banyak benih yang ditebar, yang berhasil dipanen kira-kira separohnya. Lumayan, dapat satu porsi. Cara memanennya degan mencabut hingga ke akarnya. Sawi yang dipanen segar sekali, apalagi dipanen waktu pagi hari ketika masih ada tetes embun yang menempel di daunnya yang lebar-lebar. Hanya ada beberapa helai daun yang berlubang karena dimakan belalang.

Hmm... sudah terbayang menu hari ini: ca sawi "petikemas" (= dipetik kemudian dimasak).

Read More......

Sabtu, Maret 14, 2009

Agar MOL Tetap Bersih


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Dakron Penutup Botol MOL

Beberapa waktu yang lalu aku agak terganggu dengan keberadaan botol-botol MOL di rumahku. Selain karena baunya yang kadang menyengat, juga karena di dalam MOL terdapat larva dari serangga kecil (mrutu).






Aku membuat MOL tidak hanya dari tape saja; berbagai bahan pernah aku buat seperti tempe, tahu, selai nanas, selai belimbing wuluh, dan ampas jus. Air yang digunakan juga tidak hanya air putih saja; air cucian beras, air rendaman kedelai/kacang hijau, susu, teh, dan susu fermentasi (yakult).

Beberapa bahan menimbulkan bau tak sedap saat berlangsungnya fermentasi terutama kalau cairannya mengandung susu. Selain itu banyak lalat dan serangga lainnya juga senang bertelur di dalam botol; akibatnya muncul larva-larva serangga seperti jentik-jentik dan juga belatung. Pernah juga ada cicak yang berenang dalam botol MOL-ku!

Suamiku sempat protes karena bau yang menyengat. Akhirnya aku 'buang' MOL lamaku ke komposter anaerob milik RT dan mulai membuat MOL baru. Semula aku ingin membuat MOL secara anaerob tapi gak jadi karena kelihatannya kok rumit...

Aku tetap membuat MOL secara aerob dan dengan bahan seadanya; ada sisa jus ya dipakai, ada yakult yang sudah kadaluarsa ya dicampur saja. Untuk mengatasi bau dan serangga, lubang botolnya aku tutup pakai dakron atau sabut/spons bekas cuci piring. Bahan-bahan ini bisa menutup lubang botol dengan rapat tapi tetap ada pori-pori untuk sirkulasi udara.

Sekarang tidak ada lagi bau yang mengganggu dan cairan MOL juga tetap bersih.

Read More......

Kamis, Maret 12, 2009

Padi Hidroponik Berbulir


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Bulir Padi Hidroponik


Semula aku berniat akan memangkas padi hidroponikku yang sepertinya sudah 'berhenti tumbuh' dan memasukkannya ke dalam tong kompos. Sebelum dipangkas aku amati tanaman padi itu baik-baik dan ternyata ada sesuatu yang membuat aku mengurungkan niat untuk membuangnya.





Tanaman padiku saat ini sudah berumur 4 bulan lebih, anakannya hanya satu yang muncul di bulan kedua. Sejak bulan kedua itu seakan-akan pertumbuhannya berhenti; tidak muncul anakan baru ataupun daun baru meskipun sudah dipindah ke pot yang lebih besar. Aku mulai putus asa dengan padi hidroponikku ini, aku pikir ini tidak akan berhasil dan aku sudah bertekad akan membuangnya saja.

Sebelum aku buang, entah kenapa aku pengen mengamati dulu tanaman padi itu; dan ternyata... aku melihat batang padinya sudah menggelembung seperti akan berbulir! Wow! surprise banget! Ternyata bisa berbulir juga padi hidroponikku! Batal deh niatku untuk mebuangnya...

Setiap hari aku tengok padi hidroponik ini; kalau-kalau bulirnya sudah muncul. Kemarin pagi aku lihat batang pembungkus malai padi sudah mulai terbuka dan beberapa bulir padi sudah muncul. Warna bulirnya hijau muda agak transparan, bentuknya gepeng dan di dalamnya ada semacam titik berwarna hitam. Aku merasa agak aneh dengan bulir padi ini. Rasa-rasanya kok beda dengan bulir padi yang di tanam di tanah... Bulir padi yang ditanam di tanah warnanya juga hijau muda tapi bagian dalamnya putih seperti susu dan bentuknya agak menggelembung.

Benar saja, pagi ini semuanya sudah terjawab. Bulir-bulir padi hidroponik itu terbelah jadi seperti kelopak bunga dan muncul serabut kecil seperti benang sari dari dalamnya. Artinya... padi hidroponikku memang berbulir tapi tidak menghasilkan gabah alias bulirnya kosong! Waaah... kecewa juga nih padahal sebelumnya aku sudah membayangkan akan panen padi hidroponik sebanyak 2 malai...

Kenapa bisa begitu... aku tidak tahu pasti. Ketika kutanyakan kepada Pak Sobirin, beliau mengatakan bahwa padinya kekurangan unsur hara phosphat (P2O5) yang berperan membentuk auxin, membentuk pati, mengurangi penyakit bulir hampa, dan BULIR PECAH. Unsur hara phosphat ini banyak terkandung dalam kotoran ayam.

Mungkin ini karena cairan nutrisi yang aku pakai adalah MOL buatan sendiri yang kurang lengkap komposisi unsur haranya. Jadi timbul pertanyaan nih... kalau pakai cairan nutrisi yang buatan pabrik yang katanya kandungan nutrisinya lengkap, apakah hasilnya seperti ini juga? Atau... mungkinkah membuat MOL dari bahan-bahan tertentu yang mengandung unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman...?

Jawabannya.... ya harus dicoba dulu baru bisa jawab... :)

Read More......