Sabtu, Maret 28, 2009

Panen Sawi Caisim





Oleh: Christine

Foto: Christine, 2009, Sawi Caisim Segar

Pas weekend pas panen sawi caisim... asik sawinya segar sekali, daunnya juga lebar-lebar.











Aku menebar benih sawi di pot ember yang sebelumnya ditanami bayam. Sebelum benih ditebar, media tanam diaduk-aduk dan ditambahkan kompos baru. Setelah itu didiamkan barang seminggu agar tanah sempat beristirahat. Selama diistirahatkan tanah tetap disiram dan dipupuk dengan MOL encer seperti biasa.

Pada tanah yang sudah siap ditanami kemudian disebarkan benih sawi; kira-kira sejumput banyaknya. Benih-benih sawi yang sudah disebar ditutup dengan selapis tipis kompos agar tidak hanyut saat disiram.

Dalam beberapa hari sudah muncul tunas-tunas sawi. Daun pertama yang muncul bentuknya bulat terbelah di tengah seperti bentuk hati, beberapa hari kemudian muncul daun berbentuk lonjong dan agak bergerigi; inilah daun sawi sesungguhnya.

Pertumbuhan sawiku sempat terganggu karena curah hujan yang tinggi. Tanaman muda banyak yang ambruk, rusak, bahkan busuk. Setelah hujan berkurang muncul masalah baru; serbuan dari belalang hijau kecil membuat tanaman sawiku tinggal batangnya saja.

Akhirnya dari sekian banyak benih yang ditebar, yang berhasil dipanen kira-kira separohnya. Lumayan, dapat satu porsi. Cara memanennya degan mencabut hingga ke akarnya. Sawi yang dipanen segar sekali, apalagi dipanen waktu pagi hari ketika masih ada tetes embun yang menempel di daunnya yang lebar-lebar. Hanya ada beberapa helai daun yang berlubang karena dimakan belalang.

Hmm... sudah terbayang menu hari ini: ca sawi "petikemas" (= dipetik kemudian dimasak).

Read More......

Sabtu, Maret 14, 2009

Agar MOL Tetap Bersih


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Dakron Penutup Botol MOL

Beberapa waktu yang lalu aku agak terganggu dengan keberadaan botol-botol MOL di rumahku. Selain karena baunya yang kadang menyengat, juga karena di dalam MOL terdapat larva dari serangga kecil (mrutu).






Aku membuat MOL tidak hanya dari tape saja; berbagai bahan pernah aku buat seperti tempe, tahu, selai nanas, selai belimbing wuluh, dan ampas jus. Air yang digunakan juga tidak hanya air putih saja; air cucian beras, air rendaman kedelai/kacang hijau, susu, teh, dan susu fermentasi (yakult).

Beberapa bahan menimbulkan bau tak sedap saat berlangsungnya fermentasi terutama kalau cairannya mengandung susu. Selain itu banyak lalat dan serangga lainnya juga senang bertelur di dalam botol; akibatnya muncul larva-larva serangga seperti jentik-jentik dan juga belatung. Pernah juga ada cicak yang berenang dalam botol MOL-ku!

Suamiku sempat protes karena bau yang menyengat. Akhirnya aku 'buang' MOL lamaku ke komposter anaerob milik RT dan mulai membuat MOL baru. Semula aku ingin membuat MOL secara anaerob tapi gak jadi karena kelihatannya kok rumit...

Aku tetap membuat MOL secara aerob dan dengan bahan seadanya; ada sisa jus ya dipakai, ada yakult yang sudah kadaluarsa ya dicampur saja. Untuk mengatasi bau dan serangga, lubang botolnya aku tutup pakai dakron atau sabut/spons bekas cuci piring. Bahan-bahan ini bisa menutup lubang botol dengan rapat tapi tetap ada pori-pori untuk sirkulasi udara.

Sekarang tidak ada lagi bau yang mengganggu dan cairan MOL juga tetap bersih.

Read More......

Kamis, Maret 12, 2009

Padi Hidroponik Berbulir


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Bulir Padi Hidroponik


Semula aku berniat akan memangkas padi hidroponikku yang sepertinya sudah 'berhenti tumbuh' dan memasukkannya ke dalam tong kompos. Sebelum dipangkas aku amati tanaman padi itu baik-baik dan ternyata ada sesuatu yang membuat aku mengurungkan niat untuk membuangnya.





Tanaman padiku saat ini sudah berumur 4 bulan lebih, anakannya hanya satu yang muncul di bulan kedua. Sejak bulan kedua itu seakan-akan pertumbuhannya berhenti; tidak muncul anakan baru ataupun daun baru meskipun sudah dipindah ke pot yang lebih besar. Aku mulai putus asa dengan padi hidroponikku ini, aku pikir ini tidak akan berhasil dan aku sudah bertekad akan membuangnya saja.

Sebelum aku buang, entah kenapa aku pengen mengamati dulu tanaman padi itu; dan ternyata... aku melihat batang padinya sudah menggelembung seperti akan berbulir! Wow! surprise banget! Ternyata bisa berbulir juga padi hidroponikku! Batal deh niatku untuk mebuangnya...

Setiap hari aku tengok padi hidroponik ini; kalau-kalau bulirnya sudah muncul. Kemarin pagi aku lihat batang pembungkus malai padi sudah mulai terbuka dan beberapa bulir padi sudah muncul. Warna bulirnya hijau muda agak transparan, bentuknya gepeng dan di dalamnya ada semacam titik berwarna hitam. Aku merasa agak aneh dengan bulir padi ini. Rasa-rasanya kok beda dengan bulir padi yang di tanam di tanah... Bulir padi yang ditanam di tanah warnanya juga hijau muda tapi bagian dalamnya putih seperti susu dan bentuknya agak menggelembung.

Benar saja, pagi ini semuanya sudah terjawab. Bulir-bulir padi hidroponik itu terbelah jadi seperti kelopak bunga dan muncul serabut kecil seperti benang sari dari dalamnya. Artinya... padi hidroponikku memang berbulir tapi tidak menghasilkan gabah alias bulirnya kosong! Waaah... kecewa juga nih padahal sebelumnya aku sudah membayangkan akan panen padi hidroponik sebanyak 2 malai...

Kenapa bisa begitu... aku tidak tahu pasti. Ketika kutanyakan kepada Pak Sobirin, beliau mengatakan bahwa padinya kekurangan unsur hara phosphat (P2O5) yang berperan membentuk auxin, membentuk pati, mengurangi penyakit bulir hampa, dan BULIR PECAH. Unsur hara phosphat ini banyak terkandung dalam kotoran ayam.

Mungkin ini karena cairan nutrisi yang aku pakai adalah MOL buatan sendiri yang kurang lengkap komposisi unsur haranya. Jadi timbul pertanyaan nih... kalau pakai cairan nutrisi yang buatan pabrik yang katanya kandungan nutrisinya lengkap, apakah hasilnya seperti ini juga? Atau... mungkinkah membuat MOL dari bahan-bahan tertentu yang mengandung unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman...?

Jawabannya.... ya harus dicoba dulu baru bisa jawab... :)

Read More......

Jumat, Maret 06, 2009

Ular Tangga




Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Karpet Ular Tangga


Ular tangga adalah salah satu mainan favoritku waktu kecil selain monopoli dan masak-masakan. Selalu ada rasa deg-degan saat melempar dadu; kuatir kalau pionnya jatuh pada kepala ular.






Kalau dulu papan main ular tangga hanya terbuat dari selembar kertas, sekarang ada beberapa bentuk; diantaranya yang pernah aku lihat adalah berupa kotak papan plastik yang bisa dilipat seperti kotak papan catur. Bentuknya juga kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana. Bentuk kedua yang baru saja kutemui adalah berupa karpet; bahannya seperti bahan sandal jepit dan lapisan atasnya yang bergambar terbuat dari plastik.

Karpet ular tangga ini semula berupa potongan-potongan 30cm x 30cm, kemudian disambung-sambung hingga menjadi papan ular tangga berukuran 90cm x 90cm. Sayangnya karpet ular tangga ini hanya sekedar karpet saja, bukan paket permainan; artinya tidak ada dadu maupun pion untuk dimainkan










Yang bisa dilakukan dengan karpet ini adalah permainan puzzle. Anakku seneng banget bongkar pasang karpet ini... Berkali-kali dicoba akhirnya bisa juga dia merangkai gambarnya dengan benar.


Tapi... rasanya tidak asik kalo punya karpet ular tangga tapi tidak bisa bermain ular tangga. Tengok sana, tengok sini akhirnya nemu ide juga......

Dadu. Dari dua buah kotak kubus beda ukuran yang dibuat dari kertas yang dilipat ala origami terus di digambar pake spidol merah.




Pion. Dari batu baterai besar yang sudah tidak terpakai, biar cantik batu baterai ini aku bungkus dengan kain flanel warna cerah.

Siiip! Sekarang aku punya satu paket permainan ular tangga!
Main ular tangga yuuuk....


Read More......

Senin, Maret 02, 2009

Cabe Bulat


Oleh: Christine
Foto: Christine, 2009, Cabe Bulat

Aku dapat benih cabe ini dari seorang tetangga. Awalnya tidak mudah menanam cabe ini; biji cabe sudah busuk sebelum berkecambah. Tanaman cabeku yang sekarang ini adalah hasil pembibitan yang ke-4.









Aku tidak tahu pasti apa nama cabe ini. Menurut tetangga pemberi benih, namanya
cabe Bandung; pernah tanya di sebuah pameran tanaman, namanya cabe Arab; di google, cabe ini mirip dengan cabe Red Savina Habanero dan cabe Havana; sedangkan aku sendiri menamakannya cabe bulat.

Apapun namanya, cabe ini telah banyak menarik perhatian orang-orang yang lewat di depan rumahku. Bentuknya yang bulat dan berkerut membuat cabe ini terlihat "lucu"; buahnya lebat dan munculnya serentak sehingga saat buah sudah tua warna merahnya-pun seragam; ditambah dengan pohon yang tidak tinggi dan ranting-ranting yang pendek menjadikan tanaman cabe ini secara keseluruhan terlihat cantik sekali.

Selain enak dilpandang, cabe ini juga enak dimakan. Rasanya sangat pedas seperti cabe rawit merah, aromanya agak wangi tidak seperti aroma cabe pada umumnya. Cabe ini sangat cocok untuk dimasak oseng (oseng jagung habanero) atau sambal goreng, sedangkan untuk sambel uleg kurang cocok karena daging buahnya tipis dan kering (sedikit mengandung air).

Jika akan dikonsumsi cabe bisa dipetik kapan saja; baik saat masih hijau (untuk oseng cabe hijau) ataupun saat sudah merah, tergantung keperluan. Rasa pedas cabe yang hijau maupun yang merah sama saja.

Jika akan dijadikan bibit untuk ditanam, petik cabe saat tangkainya sudah berwarna kuning tapi belum sampai kering dan juga belum jatuh sendiri. Menurut pengalamanku, inilah saat yang paling tepat untuk memanen benih cabe bulat. Kalau dipetik saat tangkainya belum kuning, biji cabe belum cukup tua untuk ditanam. Sebaliknya jika cabe sudah jatuh sendiri atau tangkainya sudah kering, sebagian biji cabe sudah busuk dan tidak dapat tumbuh jika ditanam.

Saat mengolah cabe bulat yang masih segar sebaiknya hindari memegang langsung bagian dalamnya (daging/biji) karena rasa panas/pedas yang terasa di tangan lama hilangnya walaupun sudah dicuci dengan sabun berkali-kali. Dalam keadaan kering-pun cabe bulat ini masih terasa pedas dan panas.

Cabe yang sudah busuk atau kering masih bisa digunakan sebagai pestisida alami, caranya sebagai berikut; yang dikutip dari blognya Pak Sobirin.

Campur 3 (tiga) biji bawang putih yang sudah dikupas dengan segenggam cabai dan rebuslah dalam sepanci air. Tambahkan 1/4 balok sabun, aduk rata kemudian biarkan selama sehari. Saring cairan tersebut dan gunakan 2 cangkir larutan tersebut untuk satu kali penyemprotan.


Bawang putih merupakan insektisida, fungisida, dan penolak hama. Sabun akan membantu penyemprotan untuk melekatkan pada tanaman dan serangga. Gunakan larutan ini untuk aphid (kutu daun), ulat bulu, dan ngengat.


Bawang putih dan cabai secara alami akan menolak banyak serangga. Tanamlah di sekitar pohon buah dan lahan sayuran untuk membantu mengurangi masalah-masalah serangga.

Bawang putih dan cabai dapat juga digunakan secara terpisah sebagai bahan pestisida.

Pestisida cabe bulat + bawang putih ini pernah aku cobakan pada larva kepik yang menyerang pohon terong dan semut hitam yang bersarang di akar padi. Hasilnya lumayan, hama pengganggu berkurang walaupun tidak 100%.

Oya, ketika aku membuat pestisida ini bawang putih dan cabenya aku blender halus supaya pedasnya lebih "menggigit!" dan panasnya lebih "nyos!".

Read More......